03 March, 2012

Tentang seorang Anak

Anak-anak adalah mahluk yang tidak berdaya. Bagaiamana jika anak itu berada di tangan yang salah?

Hari itu hari Jumat sore saat saya pulang kantor. Angkot yang saya tumpangi lewat Poin Square, Lebakbulus. Seorang ibu sedang menggendong balitanya dengan kain. Si ibu menepuk-nepuk pantat si balita dengan kasar. Saya yakin ia sedang merah. Dan balita itu menangis. Tak berdaya. Di tangan orang dewasa yang tidak ramah padanya. Bagaimana nasib anak itu setelah itu, saya sungguh tidak tahu. Seandainya saya punya nyali untuk turun dan memperingatkan ibu itu. Dan bukan hanya terdiam dan merasa sangat bersedih. Barangkali saya memang tidak terlahir sebagai pahlawan.

Harus saya akui, Jakarta sudah membuat semua orang menjadi semakin tak peduli. Semakin acuh dengan orang lain. Sudah terlalu banyak tragedi yang menjadi tontonan setiap hari di Jakarta dan itu membuat kita semakin terbiasa.

Dan saya tidak melakukan apa-apa. Barangkali tak seorang pun melakukan apa-apa. Barangkali nasib anak itu akan tergantung pada hukum alam,pada takdir yang akan memihaknya atau tidak.Jika takdir memihak padanya, maka kemarahan perempuan itu barangkali akan mereda. Ia menyesal telah membuat anaknya menangis dan kemudian membelikan segelas susu hangat untuknya. Jika takdir tak memihaknya, barangkali perempuan itu menjadi semakin marah. Setengah kalap dan terlampau depresi. Yang lebih buruk lagi, perempuan jahat itu bukanlah ibunya. Ia hanya seorang penculik yang tak memiliki secuil cinta pun kepada balita itiu. Dan saya hanya bisa menangisi ketidakpedulian saya dan semua orang.

Mudah-mudahan balita itu baik-baik saja saat ini. Mudah-mudahan kekuatan doa ini dapat melindunginya.Bukankah manusia mempunyai kekuatan energi yang luar biasa.

07 January, 2011

Komentar dari Pembaca Novel Senjakala

Sejak November 2010 saya telah menjual 30 buku kepada teman-teman dan pembaca yang membelinya langsung dari saya. Terima kasih banyak atas apresiasinya kawan-kawan. Berikut ini adalah beberapa komentar dari para pembaca tersebut :

Buku Senjakala bagus aku suka , endingnya unpredictable, ditunggu buku lainnyaya… Marina Christi Fani, Guru, Jakarta
  
Aku baca buku Senjakala... nggak nyangka ternyata mbak kereen banget… Eka, Mahasiswa, Jakarta

Yup sudah diterima dan hari itu juga langsung  habis dibaca....Yessi  Crosita, Bogor

berikut ini nukilan novel Senjakala dari halaman 118.........


Naka ke manakah engkau pergi? Lily merasa kehabisan akal untuk menemukan Naka. Entah untuk keberapa kalikah pertanyaan itu ia ajukan. Ia pernah meneriakkan pertanyaan itu sekencang-kencangnya di tengah deru mobilnya bersama Cakra. Namun, hanya kesunyian yang menjadi jawaban dari pertanyaan Lily. Kini Lily tahu betul perasaan Naka ketika ia berusaha menemukan kakaknya. Ia selalu dihajar kesia-siaan. Tidak pernah ada jawaban untuk setiap pertanyaan yang diajukannya. Tidak ada kepastian untuk harapan yang dipupuknya hari demi hari. Orang-orang yang mengaku memerhatikannya, seperti ia dan Cakra, meninggalkannya begitu saja seolah tidak pernah mengenalnya.  Tapi haruskah Naka menjadi nekat karenanya?
          Sebulan terakhir ini, Lily dan Cakra menyusuri setiap jejak yang mungkin membuat mereka bisa menemukan Naka. Namun, hasilnya nol besar. Nihil. Tidak terlihat sedikit pun bayangan Naka di antara jalan-jalan yang mereka telusuri. Lily hanya mampu menemukan bayangan-bayangan wajah Naka dalam benaknya. Wajah yang dihiasai bola mata cemerlang. Bila Naka sedang gembira, mata itu akan akan berbinar seperti kerlip jutaan bintang. Lily selalu merasa Naka akan tumbuh menjadi orang yang istimewa bila besar nanti. Ia akan menjelma menjadi perempuan yang hebat.  Hati Lily teriris. Sekarang bocah itu hilang seolah ditelan perut bumi. Di manakah engkau, Naka? Lily kembali meneriakkannya keras-keras di hatinya.
            Apa yang sanggup menghalau perasaan bersalah di hatinya? Tidak ada. Lily merasa pantas menerima segala luka ini di hatinya. Wajah Naka yang sangat mengharapkan kehadirannya terus mengikutinya seperti terus mengingatkan Lily betapa bersalahnya ia pada anak itu. Namun, sekarang semuanya terasa sudah terlambat. Lily tidak bisa menemukan Naka untuk mengatakan betapa ia peduli pada anak itu, betapa ia sayang Naka seperti adiknya sendiri. Masihkah ia punya kesempatan?

27 December, 2010

Hal 102 Novel Senjakala....

Surat 10

Bli Raka, akhir-akhir ini jantung tiang sering berdebar sangat kencang. Kadang-kadang tiang takut jantung tiang akan meledak. Bisakah jantung itu meledak Bli? Tiang juga sering merinding setiap petang tiba. Orang-orang mengatakan itu sandikala, sarumua. Saat siang berganti dengan malam. Dadong selalu menyuruh tiang cepat-cepat pulang kalau saat itu tiba. Katanya pada saat itu banyak roh-roh jahat yang sedang berkeliaran.

Mungkin tiang merinding karena bila senja tiba, tiang selalu mengingat saat Bli menghilang. Tiang menyesal karena tidak menyusul Bli ke Gunung Kawi dan mengajak Bli segera pulang. Benarkah kekuatan jahat yang sudah membawa Bli pergi?

Tiang tiba-tiba saja merasa sangat mengkuatirkan Bli. Setiap malam tiang memimpikan Bli. Dan mimpi itu sangat menyeramkan. Tiang memimpikan Bli sedang dimakan raksasa bertaring tajam. Raksasa itu memakan Bli sehingga terpotong menjadi dua dan badan Bli penuh dengan darah. Hyang Jagat, mengapa mimpi tiang begitu menakutkan.

Mulai malam ini, tiang berjanji tidak akan tertidur. Tiang tidak ingin lagi melihat Bli terluka dalam mimpi tiang. Biarlah tiang membayangkan Bli sedang bermain-main dengan teman-teman baru Bli di sana. Mungkin Bli sedang bermain bola atau sedang bernyanyi bersama. Mungkin Bli bermain catur atau bermain tebak-tebakan.

Kalaupun tiang akhirnya tertidur, biarlah tiang ada bersama Bli di sana. Jika Bli sedang dimakan raksasa, tiang akan memasukkan tubuh tiang ke mulut raksasa itu. Bila Bli terluka dan penuh dengan darah, biarlah tiang juga terluka dan penuh dengan darah.

Bli, tiang akan menceritakan sebuah rahasia. Tolong jangan dikatakan kepada siapapun. Terutama kepada Dadong dan Wi Made Gemet. Tiang hanya makan dua suap setiap kali makan dan membuang sisanya. Jangan salahkan tiang, Bli. Lidah tiang terasa sangat pahit. Tiang takut akan muntah kalau memaksakan diri makan lebih banyak.

Tiang berani melakukan ini, karena sampai saat ini tiang merasa masih sehat. Tiang tidak sakit. Tiang masih bisa sekolah, mebanten dan mengerjakan PR. Kadang-kadang memang mata tiang terasa agak buram dan kepala tiang agak pusing. Tapi tidak apa-apa. Tiang tidak akan mengeluh kalau sakit sedikit. Seperti Bli. Tiang ingin kuat seperti Bli. Lihatlah Bli, semakin lama tiang semakin bisa menjadi adik yang baik untukmu. Karena itu, ijinkanlah tiang berada di dekat Bli lagi. Ijinkan tiang bermain gembira denganmu seperti dulu lagi.

10 November, 2010

Program Susu untuk Pengungsi Merapi





Program susu masih terus berlanjut. Kali ini diarahkan ke anak-anak yang menjadi pengungsi akibat letusan gunung berapi. Adapun susu yang disumbangkan kali ini terdiri dari:
- 3 kotak susu Dancow Batita dengan harga Rp. 28.200,-
- 5 susu SGM 3 dengan harga Rp. 49.750
- Susu Indomilk dan Bendera UHT ukuran kecil dan besar dengan rasa strawberry dan coklat dengan harga Rp. 68.200,-
Jadi total nilai susu yang disumbangkan kali ini adalah Rp. 140.150,-
Bantuan susu ini langsung dikirim ke Teater Garasi , Yogyakarta yang akan menyalurkannya langsung kepada para pengungsi di sana. Selain bantuan susu tersebut, saya juga mengirimkan pakaian anak dan pakaian dewasa layak pakai dan mainan anak untuk membantu anak-anak pengungsi Merapi.

10 October, 2010

Sebelum diterbitkan, novel Senjakala adalah pemenang pertama Lomba Menulis Cerita Bersambung Femina 2007. Novel ini mengisahkan tentang perjuangan wartawan asal Jakarta bernama Lily yang berusaha mengungkap misteri hilangnya seorang bocah bernama Raka di kawasan wisata Gunung Kawi. Pertualangan ini membawa Lily pada kisah cinta dengan seorang laki-laki Bali bernama Cakra. Bagaimana akhir kisah cinta ini? Dan apa misteri dibalik hilangnya Raka. Baca kisahnya dalam novel Senjakala

Novel karya Ni Komang Ariani, berhasil meramu antara eksotisme, mitos dan kriminalitas yang menyertainya. Oleh karena itulah ia selalu seolah mengarah pada satu hal, tetapi kemudian justru menyajikan hal yang berbeda. Realitas yang mengikuti dunia perpelancongan seperti di Bali, terkadang begitu horor. Dan horor itu pernah benar-benar terjadi: pedofilia. Putu Fajar Arcana, sastrawan dan wartawan

Buku ini bagaikan seember air yang ditimba dari perut Bali penuh dengan pernak-pernik legenda, misteri, imajinasi dan kekinian, diurai dengan gaya bertutur lancar dan rapi. Selamat & sukses Komang

Putu Oka Sukanta, sastrawan

Ketika ada yang mengatakan realisme sudah tak cukup, atau malahan sebuah cacat kesusastraan Indonesia mutakhir, Komang justru tetap berdiri di atas titian nyata itu. Bukan karena dia Bali, tetapi lantaran ingin realisme yang sudah dia tinggikan derajatnya sampai juga ke tepian sana…

Martin Aleida, penulis cerita pendek

21 December, 2009

Program Susu di Hari Ibu

Senang sekali rasanya bisa melaporkan program susu ini di hari Ibu yang jatuh pada hari ini (22/12/2009). Pada hari Minggu (20/12/2009) saya telah menyumbangkan susu Dancow 1+ kemasan 800 gram sebanyak tiga buah dan kemasan 400 gram sebanyak empat buah ke Panti Asuhan Abhimata yang terletak di Jl. Mertilang V Blok KA 4 No. 1 Bintaro Jaya Sektor 9 Jakarta 12330, Telp 7326715. Nilai seluruh susu yang disumbangkan adalah Rp. 274.350,-.

Program susu untuk bayi dan anak jalanan memang diperlebar dengan pemberian susu di panti asuhan, mengingat selama ini saya agak kesulitan membagikan susu di persimpangan jalan dalam jumlah yang besar. Oleh karena itu mudah-mudahan sumbangan susu untuk panti asuhan abhimata ini bisa semakin mempercepat pelaksanaan program susu yang sedang saya jalankan. Program ini menyumbangan seribu rupiah dari setiap buku kumpulan cerpen lidah yang terjual.

Panti Asuhan Abhimata menampung 13 bayi, 27 balita dan 30 anak TK-SD. Balita dari berbagai agama ini diserahkan kepada Panti Asuhan Katolik ini karena berbagai alasan, diantaranya bayi yang terlahir dari hubungan di luar nikah, bayi yang ditemukan di jalan, bayi yang diserahkan ibunya karena tidak mampu membesarkan dan bayi yang ditolak keluarga karena terlahir dari pasangan beda agama.

Saya merasa bersyukur pula bahwa proses penyerahan susu sempat saya abadikan melalui kamera ponsel, walaupun foto yang dihasilkan agak kurang jelas, namun mudah-mudahan foto ini tetap bisa menjadi bukti bahwa program susu ini memang kami lakukan dengan transparan.
Loading...

Apakah anda mendukung untuk mengganti uang receh dengan susu atau makanan untuk pengemis di persimpangan jalan